Guru Dipukuli di Sekolah, Dikbud Merangin : “Usut Tuntas Pelakunya!”

JAMBI.MPN-Kab.Merangin –  Seorang guru SMPN 32 Merangin menjadi korban aksi kekerasan di lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi para pendidik dan siswa.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Merangin, Juhendri, angkat bicara dan mengecam keras kejadian tersebut. Dengan nada tegas, ia mengungkapkan kekecewaan dan keprihatinannya.

“Kami sangat sesalkan terjadinya kekerasan terhadap guru di SMPN 32 Merangin ini. Kami sedih jika ada guru kami yang disakiti. Sekolah bukan tempat adu fisik!” tegas Juhendri, Sabtu (15/11/2025).

Kasus ini sudah resmi dilaporkan ke Aparat Penegak Hukum (APH) Polres Merangin. Juhendri mendesak agar proses hukum dilakukan cepat dan transparan.

“Kami minta penegak hukum usut tuntas! Jangan ada yang ditutup-tutupi. Guru harus dilindungi!” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kejadian ini memberi luka psikologis tidak hanya kepada korban, tetapi juga kepada seluruh tenaga pendidik dan siswa.

“Ini sangat mengganggu mental guru dan anak-anak. Bagaimana pendidikan bisa berjalan jika guru merasa terancam?” ujarnya.

Dikbud juga menyoroti pentingnya dukungan masyarakat terhadap dunia pendidikan.

“Jika ada masalah pribadi, jangan bawa ke sekolah. Selesaikan secara bijak, bukan dengan adu pukul di depan siswa!” katanya.

Setelah menerima laporan awal, Dikbud Merangin langsung turun ke lapangan. Namun saat tim tiba, korban guru bernama Paimin sudah dievakuasi ke rumah sakit.

“Awalnya ada kabar seolah guru terlibat pengeroyokan, tapi setelah ditelusuri, justru beliau adalah korban. Itu informasi keliru,” jelas Juhendri.

Pelaku diduga berinisial A. Saat ini PGRI dan Dikbud berkomitmen mendampingi korban dan memastikan proses hukum berjalan.

“Diknas dan PGRI akan terus mengawal kasus ini. Guru harus mendapatkan keadilan!” tegasnya.

Kekerasan terhadap guru kembali menjadi peringatan keras bahwa sistem perlindungan tenaga pendidik harus diperkuat. Jika tidak, dunia pendidikan akan terus dirusak oleh tindakan barbar yang tak layak terjadi di sekolah.

Sekolah seharusnya tempat pendidikan, bukan gelanggang kekerasan.

(Susi Lawati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *