JAMBI.MPN-Kab.Tanjab Barat-Kuala Tungkal _ Suasana di Pelabuhan Roro Kuala Tungkal mendadak memanas pada Senin (24/11/2025). Puluhan sopir truk pengangkut sayur dan kebutuhan pokok melakukan aksi protes besar-besaran setelah kapal Roro tujuan Dabo Singkep tak kunjung berangkat sesuai jadwal.
Aksi spontan itu berubah tegang saat para sopir menghadang pintu masuk pelabuhan, menuntut kejelasan keberangkatan yang sudah berulang kali mengalami keterlambatan. Mereka mengaku kesal karena barang muatan bersifat cepat rusak, sementara janji keberangkatan sebelumnya tak pernah terpenuhi.
Melihat situasi memuncak, Kepala Dinas Perhubungan Kuala Tungkal, Syamsul Jauhari, bersama aparat gabungan Dishub, TNI, Polri, ASDP, serta pengelola pelabuhan, bergerak cepat ke lokasi. Mereka langsung menggelar pertemuan kilat untuk menenangkan para sopir yang semakin emosi.
Syamsul menjelaskan pemicu utama kekacauan ini: KMP Senangin, kapal yang rutin melayani rute Tungkal–Dabo, dipaksa dialihkan sementara ke rute Tungkal–Batam lantaran salah satu kapal di jalur tersebut mengalami kerusakan. Dampaknya, layanan ke Dabo terhambat dan antrean kendaraan menumpuk.
Untuk meredam amarah sopir yang hampir tak terbendung, Dishub mengambil langkah cepat dengan menyesuaikan kuota kendaraan. Dari 12 unit kendaraan TNI yang sebelumnya dijadwalkan berangkat, hanya 9 yang dilepas, sementara tiga slot tambahan diberikan untuk kendaraan umum—termasuk truk-truk para sopir yang memprotes.
Syamsul menegaskan bahwa KMP Senangin akan kembali beroperasi pada Selasa pagi, dan keberangkatan akan memprioritaskan kendaraan umum, khususnya pengangkut sembako yang sangat bergantung pada jadwal ketat.
Salah seorang sopir, Boy, tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia mengaku lelah dengan berbagai janji keberangkatan yang kerap tak sesuai realisasi.
“Kami ini bawa barang cepat rusak, tapi selalu saja molor. Janji tinggal janji!” keluhnya dengan suara lantang.
Meski sempat berada di ambang bentrokan, suasana perlahan kondusif setelah para sopir menerima kebijakan terbaru. Mereka akhirnya memilih menunggu jadwal keberangkatan berikutnya sambil berharap tak ada lagi kejadian serupa.
Drama panas di pelabuhan pun mereda—namun meninggalkan pesan keras agar pelayanan Roro dievaluasi dan dipastikan tidak mengecewakan masyarakat yang bergantung pada transportasi ini.
(Susi Lawati)




