Panitia Kenduri Sko Tigo Luhah Belui 2026 Resmi Dibentuk, Hajatan Adat Akbar Siap Digelar Meriah

JAMBI.MPN-Kab.Kerinci – Semangat pelestarian budaya kembali menggema di tengah masyarakat Tigo Luhah Belui. Salah satu tradisi adat terbesar yang hanya digelar setiap lima tahun sekali, Kenduri Sko Tigo Luhah Belui 2026, kini resmi memasuki tahap persiapan. Pembentukan panitia dan rilis foto kepanitiaan pada 14 April 2026 menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan sakral yang dinanti-nantikan.

Acara adat bergengsi ini akan berlangsung dalam dua tahapan penting yang sarat makna. Tahap pertama dijadwalkan pada 16–17 Juni 2026, yakni prosesi pengangkatan Pemangku Adat baru. Prosesi ini menjadi momentum penting dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan adat, menggantikan tokoh sebelumnya yang telah wafat, sekaligus memastikan nilai-nilai budaya tetap terjaga lintas generasi.

Sementara itu, puncak kemeriahan Kenduri Sko akan digelar pada 20–21 Juni 2026 di Lapangan Sepak Bola Bintang Tiga, Belui. Ribuan masyarakat diperkirakan akan memadati lokasi untuk menyaksikan rangkaian acara yang tidak hanya sakral, tetapi juga sarat nilai kebersamaan dan identitas budaya.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Tigo Luhah Belui, Andi Ariawan DPT, bersama Bendahara Umum Aziswan Roberta M.Pd MK, menyampaikan harapan besar agar seluruh elemen masyarakat dapat turut ambil bagian dalam menyukseskan hajatan adat ini.

“Kami mengajak seluruh masyarakat, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan, untuk bersama-sama mendukung, baik secara moril maupun materil. Ini adalah hajatan kita bersama, simbol persatuan dan kebanggaan adat,” ujar mereka.

Lebih dari sekadar seremoni, Kenduri Sko merupakan simbol kuat persatuan, warisan leluhur, serta identitas masyarakat Kerinci yang terus hidup di tengah perkembangan zaman. Oleh karena itu, partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama agar tradisi ini dapat berlangsung dengan khidmat, meriah, dan penuh makna.

Dengan semangat gotong royong yang terus dijaga, Kenduri Sko Tigo Luhah Belui 2026 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan adat, tetapi juga momentum mempererat tali persaudaraan serta memperkuat jati diri budaya lokal di Bumi Sakti Alam Kerinci.

(Susi Lawati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *