JAMBI.MPN — Wajah kepolisian modern kembali ditunjukkan melalui pendekatan yang lebih intelektual dan humanis. Seorang perwira menengah Ditbinmas Polda Jambi, AKBP Dr. Dadang Djoko Karyanto, tampil sebagai “Polisi Akademisi” dengan memberikan kuliah bertema manajemen anti korupsi di Universitas Islam Mambaul Ulum Jambi. Minggu (26/4/2026)
Kehadiran aparat kepolisian di lingkungan perguruan tinggi ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi community policing di level intelektual—sebuah pendekatan yang mengedepankan edukasi, dialog, dan pembinaan sebagai langkah awal pencegahan kejahatan.
Dalam pemaparannya, AKBP Dadang menegaskan bahwa kontribusi Polri di dunia akademik merupakan jembatan penting antara teori dan praktik. “Polisi tidak hanya bekerja di lapangan, tetapi juga harus hadir di ruang-ruang intelektual untuk membangun kesadaran hukum sejak dini,” ujarnya.
Sinergi Ilmu dan Praktik Lapangan
Melalui peran sebagai pengajar dan peneliti, personel Polri membawa pengalaman empiris ke dalam ruang kelas. Sebaliknya, dunia kampus menyumbangkan kerangka berpikir ilmiah yang memperkaya strategi kepolisian.
Sinergi ini dinilai strategis karena mampu:
Menghasilkan kebijakan berbasis data (evidence-based policing)
Memperkuat standar operasional prosedur (SOP)
Menangkap dinamika sosial yang berkembang di kalangan generasi muda
Tak hanya itu, kehadiran polisi di kampus juga membuka ruang diskusi kritis yang berfungsi sebagai deteksi dini terhadap potensi konflik sosial maupun penyimpangan perilaku.
Dampak Positif bagi Individu dan Institusi
Bagi personel Polri, keterlibatan di dunia akademik menjadi ruang pengembangan diri yang signifikan. Mereka dituntut untuk terus mengasah kemampuan berpikir kritis, meningkatkan literasi, serta memperkuat komunikasi publik.
Sementara bagi institusi, pendekatan ini berdampak langsung pada peningkatan kepercayaan publik (public trust). Citra polisi sebagai aparat represif perlahan bergeser menjadi sosok intelektual yang humanis dan solutif.
Selain itu, kampus juga menjadi sumber ide segar bagi Polri dalam membaca tren kejahatan baru, termasuk isu-isu strategis seperti radikalisme dan kejahatan siber.
Strategi Preemtif dan Preventif yang Lebih Tajam
Keterlibatan di perguruan tinggi juga memperkuat fungsi preemtif Polri melalui penanaman nilai-nilai hukum, etika, dan kebangsaan kepada mahasiswa sebagai agen perubahan.
Di sisi lain, pendekatan ini menjadi bagian dari strategi indirect preventive, yakni mencegah kejahatan melalui pengaruh sosial dan edukasi. Diskursus akademik dinilai efektif dalam membangun counter-narrative terhadap ideologi ekstrem sekaligus menekan potensi kriminalitas.
Pelajaran Berharga: Menuju Polri Berbasis Ilmu
Dari inisiatif ini, muncul sejumlah pelajaran penting bagi pengembangan kepolisian ke depan:
Pentingnya integrasi antara moralitas dan literasi hukum
Kekuatan kolaborasi antara Polri, kampus, pemerintah, dan masyarakat
Peran dialog sebagai alat deteksi dini konflik sosial
Kebutuhan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan era digital
Kehadiran “Polisi Akademisi” menjadi bukti bahwa transformasi Polri tidak hanya bertumpu pada kekuatan kewenangan, tetapi juga pada kekuatan ilmu pengetahuan dan pendekatan sosial.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa keamanan yang berkelanjutan tidak cukup dibangun dengan penjagaan fisik semata, melainkan harus ditopang oleh pemahaman sosial yang mendalam.
Dengan semangat Polri Presisi, kontribusi di dunia akademik diharapkan terus berkembang sebagai bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang sadar hukum, kritis, dan berintegritas.
(Susi Lawati)




