MPN.- Kampung Siaga Bencana (KSB) Cileunyi Wetan melaksanakan kegiatan pelatihan peningkatan kemampuan dan keterampilan anggota KSB Cileunyi Wetan melalui Kegiatan Peningkatan Kapasitas bagi anggota KSB Cileunyi Wetan.



Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Desa Cileunyi Wetan H.Hari Haryono, SH., Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, (11/10/2025) dan diikuti sebanyak 40 peserta anggota KSB


Rangkaian acara terdiri dari tiga sesi kegiatan materi pelatihan yaitu dari Tagana Kabupaten Bandung dengan materi yang di berikan sesi pertama tentang kebencanaan oleh Tagana Asep Mustofa dan sesi kedua aplikasi gempa bumi oleh Tagana Fitri Dewi, S.E serta sesi ketiga dari Pemadam Kebakaran Kabupaten Bandung dengan materi simulasi pengenalan, pencegahan dan penanggulangan kebakaran.




Kades H Hari mengatakan,”KSB Cileunyi Wetan hadir sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana, baik banjir, longsor, hingga gempa bumi, yang mana tujuan dari kegiatan ini adalah menambah wawasan dan memperkuat kapasitas anggota KSB Cileunyi Wetan agar dapat melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana dengan baik dan benar,” Ungkap Kades.
Ketua BPD Rely berikan apresiasi dalam sambutan mengatakan ucapan terima kasih kepada Pengurus KSB dan Kepala Desa, bahwasannya bisa mengadakan pelatihan seperti ini, yang menambah pengetahuan bagi masyarakat, dikarenakan kegiatan pelatihan ini spesial, artinya kegiatan ini jarang dilakukan atau jarang dilaksanakan, pelatihan ini sangat bermanfaat sekali bagi masyarakat, semoga berkelanjutan,” ujar Rely.
Pelatihan ini yaitu untuk meningkatkan pemahaman, wawasan dan keterampilan anggota KSB, ini penting untuk dilakukan, agar dapat meningkatkan keahlian konseptual dan teknis seluruh anggota KSB.
Dengan adanya pelatihan anggota KSB ini, berharap masyarakat tidak hanya siap siaga ketika bencana datang, tetapi juga mampu melakukan pencegahan dini melalui pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan.
Ketua KSB Deden Sumpena mengutarakan, KSB bukan hanya sebatas simbol, melainkan harus berjalan dengan sistem yang terstruktur. Nantinya akan ada koordinator lapangan (korlap) di setiap RW, untuk memastikan kesiapan masyarakat saat bencana terjadi.
“Jelas, nanti akan ada korlap. Setiap RW harus jadi korlap. Termasuk pembentukan jejaring di tingkat Desa. Jadi masyarakat tidak hanya siap menghadapi bencana, tetapi juga memiliki solidaritas yang kuat,” katanya.
**(Aspa)**




