Gelar Diskusi Publik : BEM Se Banten Serukan Konsolidasi Dan Teklap Aksi

MPN-Banten, Serang 25 Januari 2025 – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Banten mengadakan diskusi publik bertajuk “Evaluasi 100 Hari Kinerja Kabinet Merah Putih dan Menyoal Proyek Strategis Nasional (PSN) PIK 2.” Acara ini dihadiri oleh berbagai perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas di Banten, yang menyampaikan pandangan kritis terkait program nasional dan kebijakan pembangunan yang tengah berlangsung.

Bem banten bersatu mengaku kecewa atas kinerja kabinet presiden prabowo dan gibran lantaran tidak mampu chemistry dalam bekerja dan dinilai tidak kompak Koordinator Bem Banten Bersatu Bagas Yulianto “kami kecewa terhadap Kabinet Merah Putih selama 100 hari pertama, yang belum menunjukkan perubahan signifikan dalam memenuhi kebutuhan rakyat. Di tambah tidak kompak dalam satu suara untuk menyikapi isu Pagar Laut dan PSN PIK 2.”

Asrul, Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), dalam diskusi tersebut, menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Kabinet Merah Putih masih belum berjalan secara efisien. “Program ini belum menunjukkan keselarasan antar kementerian terkait, sehingga implementasinya belum optimal,” ujarnya.

Terkait PSN PIK 2, Asrul menambahkan bahwa BEM UMT mengambil sikap hati-hati. “Kami tidak ingin terburu-buru menentukan dukungan atau penolakan. Kami berada di posisi tengah untuk menghindari blunder yang bisa muncul dalam menyikapi isu ini,” tegasnya.

Yovan, Presiden Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Budi (STIA Budi) Rangkasbitung, menyoroti kelemahan program MBG, khususnya di wilayah Rangkasbitung. “Kami menemukan banyak permasalahan seperti distribusi susu basi yang justru jauh dari konsep makanan bergizi. Hal ini menunjukkan perlunya perbaikan signifikan pada program tersebut,” kata Yovan.

Sementara itu, Yovan secara tegas menolak pembangunan PIK 2. Menurutnya, “Proyek ini tidak sejalan dengan prinsip keadilan dan kebudayaan Indonesia. Pembangunan seperti ini hanya akan memperparah ketimpangan yang ada.”

Fauzan, Presiden Mahasiswa Faletehan, turut memberikan kritik terkait peran Kementerian Kesehatan dalam program MBG. “Kementerian Kesehatan seharusnya berperan lebih aktif sebagai pengendali utama untuk memastikan tujuan program tercapai, yaitu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah sebagai fondasi menuju Indonesia Emas,” jelas Fauzan.

Mengenai PIK 2, Fauzan menegaskan sikap BEM KBM Faletehan yang menolak keras proyek tersebut. “Pembangunan PIK 2 melanggar aturan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini tidak hanya melanggar regulasi, tetapi juga menimbulkan dampak lingkungan yang berbahaya,” tegasnya.

Diskusi publik ini menunjukkan bahwa mahasiswa Banten tetap kritis dan responsif terhadap berbagai kebijakan pemerintah, khususnya dalam 100 hari pertama Kabinet Merah Putih. Isu-isu seperti MBG dan PIK 2 menjadi sorotan utama, yang diharapkan dapat memicu perbaikan kebijakan pemerintah ke depan.

Diakhir acara diskusi Geri Wijaya selaku sekjend bem banten menyerukan seruan konsolidasi dan teklap aksi pada tanggal selasa 28 Januari 2025 ” Kami Bem Banten Bersatu mengajak seluruh elemen masyarakat dan mahasiswa se provinsi Banten untuk terlibat dalam konsolidasi akbar dan teklap aksi menyikapi 100 hari kinerja kabinet merah putih dan hentikan pembangunan mega proyek pik 2 pada tanggal 28 Januari 2025 hari selasa, kami mengundang seluruh masyarakat dan mahasiswa terbuka ” Tegas Sekjend bem banten bersatu

(Red/Anas Nasrul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *