JAMBI.MPN-Kab.Merangin — Di tengah gencarnya pembangunan dan modernisasi pendidikan, sebuah kisah memilukan justru datang dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 102/VI Merkeh, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Sekolah ini, yang menampung sekitar 133 siswa, hidup dalam kondisi serba keterbatasan karena tidak memiliki sumber air bersih sama sekali. Selasa 18 November 2025
Tidak seperti sekolah lain yang umumnya memiliki sumur atau akses air layak, SDN 102/VI Merkeh justru bergantung sepenuhnya pada air sungai yang berjarak 2 kilometer dari sekolah. Setiap hari, guru dan siswa terpaksa berjalan kaki melewati jalur yang cukup berbahaya, termasuk melintasi Jalan Lintas Sumatera, demi membawa pulang air untuk kebutuhan MCK.
“Kami tidak memiliki sumur. Air hujan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh siswa. Sementara warga sekitar sudah sering komplain karena kami menumpang di masjid dan rumah-rumah mereka,” ungkap Kepala Sekolah, Budi Yansen, dengan nada pilu.
Upaya pihak sekolah untuk mencari solusi sudah dilakukan. Berbagai permohonan pembangunan sumur, baik sumur manual maupun sumur bor, telah disampaikan kepada pemerintah daerah. Namun hingga kini, belum ada langkah nyata yang diberikan.
“Sejak sekolah ini dibangun sampai sekarang, belum pernah ada sumur. Karena itu kami terpaksa membawa siswa mengambil air ke sungai. Jaraknya jauh, risikonya besar, tetapi kami tidak punya pilihan,” tegas Budi Yansen.
Kisah pahit ini juga dirasakan langsung oleh para siswa. Alexsi, salah seorang murid, mengaku tak jarang dirinya dan teman-teman harus bolak-balik ke sungai meski sedang jam pelajaran.
“Kami tidak punya pilihan. Untuk buang air kecil dan besar saja harus ke sungai. Kalau tidak, ya terpaksa numpang di rumah warga,” ujarnya lirih.
Di tengah kondisi memprihatinkan ini, guru dan siswa SDN 102/VI Merkeh berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Merangin. Mereka meminta agar pembangunan sumur segera direalisasikan demi keselamatan dan kenyamanan proses belajar mengajar.
“Anak-anak setiap hari mempertaruhkan keselamatan mereka. Kami hanya ingin fasilitas dasar: air. Semoga pemerintah mendengar jeritan kami,” tutup Kepala Sekolah.
(Susi Lawati)




