MASDA Jabar Jelaskan Polemik Kirab Mahkota Binokasih dalam Rapat DPRD Garut

Garut, MPN – Tim Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar) memberikan penjelasan terkait berbagai pertanyaan dan tudingan yang muncul dari kelompok masyarakat tertentu mengenai pelaksanaan Kirab Mahkota Binokasih dalam rapat audiensi di Komisi IV DPRD Kabupaten Garut, Jumat (8/5/2026).
Rapat tersebut digelar menyusul adanya pertanyaan dari kelompok masyarakat yang tergabung dalam Pemuda Akhir Zaman terkait prosesi penghormatan terhadap Mahkota Binokasih serta penampilan arak-arakan seni budaya dalam kegiatan Kirab Napak Tilas Pajajaran.

MASDA Jabar yang menerima undangan mendadak pada Kamis malam (7/5/2026), hadir melalui Tim Rancage MASDA Jabar Koordinator Kabupaten Garut, Kang Oos Supyadin, SE., MM., yang dikenal sebagai aktivis pemerhati sejarah dan budaya Garut Selatan.

Audiensi di Gedung DPRD Garut tersebut dihadiri pimpinan dan anggota Komisi IV DPRD Garut, perwakilan MUI Garut, tokoh pondok pesantren, Disparbud Garut, dewan kebudayaan, dewan kesenian, dewan adat, ormas Islam, hingga perwakilan Pemuda Akhir Zaman selaku pemohon audiensi.

Dalam forum tersebut, terdapat dua poin utama yang dipersoalkan, yakni tata cara penghormatan Gubernur Jawa Barat terhadap Kareta Kencana yang membawa Mahkota Binokasih, serta penampilan patung kepala buta raksasa dalam arak-arakan budaya yang dianggap sebagian pihak menyerupai berhala.

Menanggapi hal itu, MASDA Jabar menegaskan bahwa Kerajaan Sunda Pajajaran merupakan fakta sejarah yang harus dipahami sebagai bagian dari wawasan budaya masyarakat Sunda. Mahkota Binokasih sendiri disebut sebagai simbol historis penting yang hingga kini tersimpan dan terawat di Museum Sumedang Larang.

MASDA Jabar juga menjelaskan bahwa hubungan historis Garut dengan perjalanan Mahkota Binokasih sangat erat, terutama melalui keberadaan Kerajaan Timbang Anten di kawasan Gunung Guntur yang disebut memiliki peran dalam penyelamatan marwah Pajajaran pasca keruntuhan kerajaan Sunda.

Terkait penghormatan yang dilakukan Gubernur Jawa Barat KDM terhadap Mahkota Binokasih, MASDA menilai hal tersebut merupakan bentuk penghormatan budaya yang masih dalam batas kewajaran dan bukan bagian dari ritual ibadah agama.
“Dalam budaya Sunda maupun Jawa, penghormatan terhadap simbol leluhur dilakukan dengan berbagai tata cara, termasuk menyilangkan tangan di dada sambil berdiri atau duduk. Itu bentuk penghormatan budaya, bukan penyembahan,” jelas perwakilan MASDA Jabar dalam rapat tersebut.

MASDA juga mengingatkan pentingnya sikap husnudzon dan tidak mudah mengaitkan simbol budaya dengan tindakan yang dianggap bertentangan dengan syariat agama tanpa dasar dalil yang jelas.

Sementara terkait arak-arakan patung yang dianggap menyerupai berhala atau makhluk menyeramkan, MASDA menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari karya seni dan ekspresi budaya lokal, sebagaimana ondel-ondel di Betawi, sisingaan di Subang, hingga wayang golek di Tanah Sunda.

Ketua Umum MASDA Jabar, Anton Charliyan, turut memberikan pandangan bahwa suatu benda baru dapat disebut berhala apabila disembah dan dianggap sebagai tuhan.
“Kalau hanya dipajang, dirawat, dihormati sebagai karya seni atau simbol budaya, tentu berbeda. Sama seperti patung pahlawan atau simbol maung di institusi TNI dan Polri, itu bukan berhala,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, MASDA Jabar juga mengingatkan pentingnya narasi dan sosialisasi dalam setiap kegiatan adat dan budaya agar tidak menimbulkan salah persepsi di tengah masyarakat.

Menurut MASDA, kurangnya pemahaman terhadap budaya dan sejarah leluhur menjadi salah satu penyebab munculnya kesalahpahaman dan rendahnya rasa memiliki terhadap warisan adat dan tradisi Sunda.
Di akhir penyampaiannya, MASDA mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap saling menghormati perbedaan pandangan serta mengedepankan dialog dibanding saling menyalahkan.

“Hayu urang silih hormati, silih bagi pangarti, silih asih, silih asah jeung silih asuh,” menjadi pesan penutup yang disampaikan dalam rapat tersebut sebagai cerminan nilai budaya Kasundaan yang menjunjung welas asih dan persaudaraan.***

@RedMPN

#MASDAJabar #MahkotaBinokasih #KirabBinokasih #BudayaSunda #Garut #DPRDGarut #NapakTilasPajajaran #AntonCharliyan #KearifanLokal #Sunda #PelestarianBudaya #JawaBarat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *