MEDIA POLISI NASIONAL – Parade Seni Reak dalam rangka Milangkala (Hari Jadi) Desa Cibiru Wetan ke-42 yang diselenggarakan pada Sabtu, 9 Mei 2026, di sambut dengan meriah oleh berbagai lapisan masyarakat.

Acara ini dimeriahkan oleh parade berbagai grup seni reak yang ada di wilayah Desa Cibiru Wetan, mereka ikut berkontribusi memeriahkan di Milangkala Desa Cibiru Wetan ke-42 , yaitu group reak Walet, Cempaka Putra, Putra Manglayang, Panggugah, Sukma Sajati, Panca Dharma, Putra Tibelat, Putra Sanggar Manglayang, yang merupakan kesenian tradisional Sunda khas Jawa Barat berupa arak-arakan dengan instrumen dogdog.




Kepada MPN, Kades Cibiru Wetan Hadian Supriatna, S.P. mengatakan,”Peringatan Milangkala ke-42 Desa Cibiru Wetan menjadi momentum refleksi perjalanan desa sekaligus penguatan semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga pembangunan berkelanjutan menuju desa yang semakin maju, mandiri, dan berprestasi,” tuturnya.



” Reak Sebagai bagian dari warisan budaya, Reak tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media untuk melestarikan
cerita, kepercayaan, dan praktik sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi” ucap Kades menambahkan.
Asal-usul reak berasal dari tanah Sunda, berkembang sebagai seni pertunjukan untuk mengarak anak khitanan atau pesta panen. Ciri Khasnya yang menggunakan instrumen Dogdog dan sering menampilkan kesenian reang atau surak-sorai (suara eak-eakan).
Sebagai upaya pelestarian budaya lokal dan ikon kesenian tradisional di wilayah Bandung Timur.Acara ini merupakan salah satu pesta rakyat tahunan di Cibiru Wetan, Bandung.
Kesenian Reak dapat dipandang sebagai salah satu ekspresi budaya yang khas, mencerminkan nilai-nilai, dan identitas masyarakat pendukungnya.
Seni Reak merupakan warisan budaya, yang tentunya budaya merupakan identitas sebuah bangsa. Identitas dapat dibentuk melalui budaya atau tempat seseorang menjadi bagian atau berpartisipasi.**@spa**



