JAMBI.MPN — Pelayanan medis di Rumah Sakit Arafah Jambi menjadi sorotan setelah seorang pasien berinisial H mengaku mengalami pengalaman yang membuatnya tertekan secara psikologis usai menjalani pemeriksaan.
H mengaku, komunikasi yang terjadi saat pemeriksaan tidak hanya membahas kondisi medis yang sedang dialaminya, tetapi juga merambah ke ranah kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, kondisi ekonomi, status pernikahan hingga persoalan memiliki anak.
Dokter yang disebut menangani pemeriksaan H dalam percakapan yang diterima redaksi disebut bernama Dr. Rosaria.
Menurut pengakuan H, sejumlah pernyataan yang disampaikan saat pemeriksaan membuat dirinya merasa tidak nyaman, bahkan memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan reproduksinya.
Dari Soal Nikah hingga Gaji, Pasien Mengaku Dipertanyakan
Dalam percakapan yang diperoleh, terdapat sejumlah pernyataan yang menurut H disampaikan ketika dirinya menjalani pemeriksaan.
Pembicaraan disebut sempat menyinggung keputusan pasien terkait pernikahan dan pekerjaan.
Salah satu pernyataan yang tercantum dalam percakapan berbunyi:
“Ngapain ga nikah, kerja getol-getol gaji ga seberapa terus nanti ga punya anak susah, kalau saya kan dokter bisa pergi umroh.”
Pernyataan tersebut menurut H membuat dirinya merasa kehidupan pribadinya ikut dibahas dalam ruang pemeriksaan.
Tidak berhenti di sana, kondisi ekonomi pasien juga disebut menjadi bagian dari pembicaraan.
Dalam percakapan lainnya terdapat pernyataan:
“Untuk biaya berobat aja kamu masih mikir-mikir.”
H menilai komentar tersebut membuat dirinya semakin tidak nyaman karena menyentuh kondisi finansial yang menurutnya merupakan persoalan pribadi.
Orang Tua dan Pekerjaan Ikut Dipertanyakan
Percakapan yang diterima juga memuat pernyataan mengenai latar belakang keluarga pasien.
Di antaranya terdapat pertanyaan mengenai pendidikan orang tua dan pekerjaan orang tua pasien.
Bagi H, pertanyaan tersebut terasa semakin jauh dari persoalan medis yang menjadi alasan dirinya datang mendapatkan pelayanan kesehatan.
Namun, apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki konteks medis tertentu atau tidak, masih membutuhkan penjelasan dari pihak dokter maupun manajemen rumah sakit.
Pernyataan Soal “Mandul” Bikin Pasien Cemas
Bagian yang paling membuat H merasa terpukul adalah ketika pembicaraan disebut menyentuh persoalan obat dan kesehatan reproduksi.
Dalam percakapan yang diberikan kepada redaksi, terdapat pernyataan:
“Ini obat yang bagus harganya mahal, tapi kalau kamu mau pakai obat BPJS bisa juga palingan berbulan-bulan berobat gitu-gitu aja sampai kamu mandul.”
Pada percakapan lainnya juga terdapat pernyataan:
“Jawab yang benar, nanti saya kasi obat asal terus ga membaik sampailah ovarium kamu mengecil dan jadi mandul.”
H mengaku pernyataan tersebut membuat dirinya takut dan terus memikirkan kondisi kesehatannya setelah meninggalkan rumah sakit.
Ia khawatir istilah yang berkaitan dengan “mandul” tersebut benar-benar menggambarkan risiko medis yang sedang dihadapinya.
Di sisi lain, kebenaran medis dari pernyataan tersebut tentu perlu diklarifikasi dan dijelaskan berdasarkan kondisi kesehatan pasien serta diagnosis dokter yang menangani.
Bukan Sekadar Tidak Nyaman, Pasien Mengaku Tertekan
Bagi H, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai cara berbicara.
Ia mengaku dampak pemeriksaan tersebut terbawa hingga setelah dirinya meninggalkan rumah sakit.
H merasa tertekan dan mulai mempertanyakan kondisi kesehatannya sendiri, khususnya setelah mendengar pembicaraan mengenai organ reproduksi dan kemungkinan mengalami gangguan kesuburan.
Menurut H, pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi membutuhkan pertolongan. Karena itu, komunikasi tenaga medis dinilainya semestinya tetap mengedepankan empati, profesionalitas, serta penjelasan medis yang mudah dipahami pasien.
Muncul Pengakuan Pasien Lain
Persoalan ini juga disebut bukan hanya dialami H.
Sejumlah pasien lain mengaku pernah mendapatkan komentar yang menurut mereka serupa, mulai dari persoalan kehidupan pribadi, ekonomi, keluarga, pekerjaan, pernikahan hingga rencana memiliki anak.
Namun demikian, jumlah pasti pasien yang mengalami pengalaman serupa belum dapat dipastikan.
Seluruh pengakuan tersebut masih membutuhkan verifikasi dan konfirmasi dari masing-masing pihak agar tidak terjadi kesimpulan sepihak.
Pihak Rumah Sakit Akan Telusuri Pengaduan
Ketika dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, pihak rumah sakit disebut menyatakan akan menelusuri pengaduan yang disampaikan.
Pihak rumah sakit juga meminta informasi tambahan berupa tanggal, bulan dan tahun lahir pasien untuk memastikan identitas serta menelusuri pelayanan yang dimaksud.
Langkah tersebut menjadi penting untuk memastikan duduk persoalan secara utuh, termasuk mengetahui waktu pemeriksaan, dokter yang menangani, rekam medis, serta konteks percakapan yang terjadi.
Hingga berita ini disusun, persoalan tersebut masih berada pada tahap pengaduan dan klarifikasi.
Menunggu Penjelasan RS Arafah
Kasus ini pada akhirnya bukan hanya menyangkut satu pasien.
Persoalan tersebut membuka pertanyaan lebih luas mengenai bagaimana komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien berlangsung di ruang pemeriksaan.
Apakah seluruh komentar yang dipersoalkan memang disampaikan sebagaimana pengakuan pasien? Apakah terdapat konteks medis tertentu di balik pernyataan tersebut? Dan bagaimana sikap manajemen RS Arafah terhadap keluhan pasien?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menunggu penjelasan resmi.
Yang jelas, pengalaman H menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya tentang diagnosis dan obat, tetapi juga tentang bagaimana pasien diperlakukan dan mendapatkan penjelasan mengenai kondisi kesehatannya.
Redaksi masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak RS Arafah Jambi maupun dokter yang disebut dalam pemberitaan ini.
(Susi Lawati)




