Lembang (Kab.Bandung Barat), MPN — Masalah sampah merupakan problem bersama yang dihasilkan bersama pula di semua tatanan masyarakat maupun instansi. Begitupun dengan tempat – tempat wisata yang notabene merupakan titik berkumpulnya para wisatawan yang tentunya menghasilkan sampah sebagai efek tambahan.
Salah satunya Desa CIkole, Kec.Lembang, Kab.Bandung Barat yang memiliki banyak wahana wisata yang kini dijadikan sebagai Desa percontohan dalam pengelolaan sampah terutama yang dihasilkan oleh tempat wisata yang jumlahnya mencapai puluhan di desa yang berbatasan dengan Kab.Subang tersebut.

Menurut Kades Cikole Drs.H.Tajudin, M.Ag.,banyaknya sampah yang dihasilkan oleh warga masyarakat Desa dan para wisatawan membuat Satuan Tugas (SATGAS) Pengelola Sampah dan Pemerintahan Desa Cikole harus bertindak cerdas untuk menjadikan sampah bernilai ekonomis dan bermanfaat.

“Untuk mengatasi masalah sampah, di desa kita kini sudah dibangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang dibangun secara bekerja sama antara Pemdes dengan perusahaan BUMN yang menjadi solusi masalah persampahan yang dihasilkan oleh tempat – tempat wisata yang ada di Cikole.
Disini terdapat 3 mesin pengolahan sampah sebagai hibah yang diberikan dari BUMN tersebut kepada Satgas pengelola sampah”, jelasnya saat kunjungan kerjanya ke TPST Cikole. “Keberadaan 3 mesin pengelola sampah ini adalah solusi untuk membuat sampah sebagai sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomis.
Keberadaan TPST Cikole, lanjut Tajudin yang ditemui di lokasi TPST Cikole belum lama ini, selain diproyeksikan dapat mengelola minimal sekitar 5 ton sampah per-hari, juga diharapkan dapat menggerakan sektor ekonomi masyarakat sekitar. TPST ini melibatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar dan ditargetkan dapat beroperasi 100% pada 2025 ini.
“Ini kan perlu kesiapan SDM-nya juga, operator harus dilatih, alat-alat juga harus di maintenance supaya performanya itu sesuai dengan indikator yang ditentukan. TPST Cikole ini memang di desain bisa ramah lingkungan dan bermanfaat, tenaga kerja, kita mengakomodir dari masyarakat sekitar.
Di tahun 2025 ini kita targetkan seluruh sampah dari warga masyarakat Desa cikole, serta sampah yang ditinggalkan oleh para wisatawan bisa kita selesaikan, diolah di TPST Cikole ini. PT. Palawi sebagai pengelola wisata di Cikole ada keinginan untuk mengolah sampah di wilayah wisata kemudian direspon oleh 21 BUMN.
Hingga sepakatlah, melalui PT.Palawi atau Perhutani, untuk memberikan mesin pengolahan sampah sebagai bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), ini juga merupakan program yang dilakukan oleh perusahaan untuk pembangunan berkelanjutan.
Program ini bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan perusahaan. TJSL juga dikenal sebagai Program Bakti BUMN. Program ini merupakan komitmen dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
TPST ini baru diresmikan awal Tahun 2025, masih baru masih penataan, dan memang kalau melihat kapasitas mesin, ini mesinnya yang pertama adalah bisa memilah untuk organik dan non organik. Yang kedua, non organik bisa diolah menjadi suatu output-nya berupa Papan atau pun paping blok dan yang lainnya atau setidaknya membuat briket-briket lah yang bisa dimanfaatkan.
Kemudian mesin yang ketiga adalah mesin full untuk mempres sehingga ini dapat meningkatkan efektivitas ketika menarik sampah plastik untuk dijual atau di bawa ke industri-industri pengolahan plastik, lebih dari 100% dalam mengefektifkan muatannya sehingga yang tadinya 3 truk bisa jadi 1 satu truk”, paparnya.
Dari pantauan di lokasi TPST Cikole, nampak dari hasil pengolahan sampah tersebut telah dihasilkan berbagai produk yang dibutuhkan masyarakat, seperti pavling block, balok dari plastik untuk bahan Mebeuleuir bahkan ada pula alat musik gitar.***
#tim




