JAMBI.MPN-Kab.Batang Hari – Konflik agraria antara Kelompok Tani Jaya Bersama dan PT Wira Karya Sakti (WKS) di Desa Simpang Rantau Gedang, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batang Hari, kembali meletup. Kali ini, dua petani menjadi korban dugaan penculikan dan penyekapan oleh oknum yang disebut berasal dari perusahaan kehutanan tersebut.
Dua petani, Muhammad Isnaini dan Yono, ditangkap paksa saat tengah bekerja di lahan yang selama ini mereka garap. Dalam kondisi terborgol dan mata tertutup kaos, keduanya dibawa tanpa penjelasan hukum yang jelas ke kawasan Distrik 8 PT WKS sebelum akhirnya diserahkan ke Polres Batang Hari dan kemudian dipindahkan ke Mapolda Jambi pada Jumat, 27 Juni 2025.
“Saya Ditangkap Seperti Kriminal, Tidak Tahu Salah Saya Apa”
Muhammad Isnaini mengisahkan detik-detik dirinya disergap oleh sekelompok orang yang diduga kuat berasal dari pihak perusahaan. Tanpa surat tugas, tanpa penjelasan, ia diborgol dan dibawa menggunakan mobil perusahaan jenis Triton putih.
“Saya masih kerja semprot tanaman, tiba-tiba rombongan mobil datang, langsung tangkap saya, buang alat semprot saya, dan memborgol tangan saya. Saya dibawa ke kantor kelompok tani, lalu menyusul Yono juga disergap,” ujar Isnaini.
Lebih parah lagi, keduanya ditutup wajahnya dengan kaos dan dibawa ke wilayah Distrik 8 PT WKS—tempat mereka mengaku sempat diinterogasi secara sepihak oleh beberapa nama yang disebut dari pihak perusahaan, seperti “Pak Pohan”, “Julianto”, dan “Hendriyanto”.
Bangunan Dirusak Excavator, 12 Pondok Petani Rata dengan Tanah
Tak berhenti di situ, Isnaini juga menyampaikan bahwa kantor kelompok tani beserta pondok petani lainnya dihancurkan menggunakan alat berat jenis excavator warna kuning.
Ketua Kelompok Tani Jaya Bersama, Suwanto, menyebut ada setidaknya 12 bangunan yang diratakan secara sepihak. “Ini tidak bisa dibiarkan. Kami minta Kapolda Jambi turun langsung. Rakyat butuh perlindungan, bukan intimidasi,” tegas Suwanto saat ditemui di Mapolda Jambi.
Yono: “Saya Ditendang dari Belakang, Tak Sempat Melawan”
Rekan Isnaini, Yono, juga menceritakan perlakuan kasar yang diterimanya. Ia mengaku mendapat tendangan dari belakang oleh salah satu dari rombongan pelaku. “Saya tak sempat lihat siapa, tapi itu dari rombongan mobil WKS juga,” kata Yono.
Negara Harus Hadir!
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar: di mana posisi negara dalam konflik agraria ini? Saat masyarakat kecil terus terintimidasi, negara melalui aparat penegak hukum justru baru bertindak setelah tekanan publik mencuat.
Kelompok Tani Jaya Bersama telah resmi melaporkan dugaan penculikan, penyekapan, dan pengrusakan aset kelompok tani ke Polda Jambi. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari PT WKS. Sikap diam perusahaan ini makin memperkuat desakan publik agar peran negara lebih aktif dan adil dalam menyelesaikan konflik tanah antara rakyat dan korporasi.
Konflik Belum Usai
Konflik agraria di Batang Hari antara warga dan PT WKS bukanlah cerita baru. Tanpa mediasi yang adil dan komprehensif dari pemerintah pusat maupun daerah, kekerasan terhadap petani berpotensi terus berulang.
Tuntutan Transparansi dan Keadilan
Kasus ini harus menjadi momentum evaluasi total terhadap perlindungan petani dan penanganan konflik agraria di Jambi. Jika negara gagal hadir untuk rakyat kecil, siapa lagi yang bisa diandalkan?
(Shee)




