JAMBI.MPN — Nama Galuh Widi Widayati kini jadi buah bibir di dunia akademik. Perempuan muda asal Jambi ini memecahkan berbagai batasan: ia menamatkan studi Magister Hukum di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) hanya dalam satu tahun, meraih predikat cum laude dengan IPK fantastis 3,87, dan pada usia baru 24 tahun, ia langsung dinyatakan lolos ke program S3. Prestasi yang tak hanya langka—bahkan nyaris mustahil dilakukan mahasiswa reguler.
Galuh bukan sekadar mahasiswa cemerlang. Sepanjang menempuh studi di Fakulti Undang-Undang UKM, ia menjelma menjadi peneliti muda yang disegani dosen-dosen internasional. Puncaknya, pada tahun 2025 ia mengguncang forum ilmiah internal kampus dengan memenangkan penghargaan “Best Paper” lewat makalah berjudul “Coroners Law in Indonesian Perspective”. Tulisan itu dinilai juri visioner, berani, dan kaya analisis lintas-negara—membawa perspektif hukum Indonesia ke panggung akademik regional.
Program yang ditempuh Galuh bukan program magister biasa. Ia masuk ke jalur coursework percepatan, sebuah program yang terkenal “menguras tenaga” karena menuntut mini-thesis pada setiap mata kuliah. Dalam waktu hanya 12 bulan, tugas, penelitian, presentasi, dan paper ilmiah datang bertubi-tubi—semua harus diselesaikan sambil beradaptasi dengan kehidupan baru di Malaysia: budaya berbeda, makanan baru, cuaca yang asing, hingga rasa rindu rumah yang kerap muncul di sela-sela kesibukan akademik.
Namun berkat disiplin besi dan dedikasi luar biasa, Galuh tak hanya bertahan—ia melesat jauh di atas standar. Dosen-dosen UKM disebut sangat mendukung, bahkan mendorongnya menggarap topik-topik strategis yang relevan dengan kebutuhan hukum Indonesia dan Malaysia. Kemampuan Galuh membaca isu perbandingan hukum membuatnya dipandang sebagai calon akademisi atau praktisi masa depan yang berpotensi memberi kontribusi signifikan bagi kawasan Asia Tenggara.
Momen kelulusannya pun tak kalah megah. Wisuda Galuh di UKM dihadiri oleh salah satu Sultan dari negeri di Malaysia—sebuah kehormatan yang menandai betapa prestisiusnya pencapaian tersebut.
Dengan bekal prestasi gemilang dan riset yang terus berkembang, langkah Galuh memasuki jenjang doktoral menjadi awal baru perjalanan panjangnya di dunia hukum. Dari Jambi menuju panggung internasional, Galuh membuktikan bahwa anak muda Indonesia mampu menembus batas—bahkan menciptakan standar baru.
(Susi Lawati)




