Oleh: Elas Anra Dermawan, S.H
(Founder Pusat Studi Politik & Bantuan Hukum dan Advokat)
JAMBI.MPN _ Dalam dunia pergerakan mahasiswa Islam, kebenaran seharusnya menjadi arah dan kompas moral. Namun, hari ini kita menyaksikan ironi yang menyakitkan — ketika solidaritas organisasi lebih diutamakan daripada keberpihakan kepada kebenaran itu sendiri.
Sebuah insiden kekerasan antarmahasiswa di kampus Islam negeri seharusnya menjadi momentum refleksi dan introspeksi bagi organisasi keislaman. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: pihak yang diduga melakukan kekerasan malah tampil di jalan, melakukan demonstrasi, seolah-olah merekalah korban ketidakadilan. Inilah wajah solidaritas buta — ketika rasa kebersamaan dijadikan tameng untuk menutupi kesalahan moral dan hukum.
Dari sisi hukum, tindakan kekerasan jelas merupakan pelanggaran terhadap Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. Tidak ada dalih solidaritas atau nama organisasi yang bisa membenarkannya. Dalam perspektif politik moral, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh pihak yang seharusnya meminta maaf justru menunjukkan krisis etik dan kehilangan orientasi nilai Islam.
Gerakan mahasiswa Islam lahir dari semangat amar ma’ruf nahi munkar — menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tapi ketika organisasi lebih sibuk membela pelaku kesalahan daripada memperjuangkan keadilan, maka gerakan itu telah bergeser dari jalan dakwah menjadi panggung kepentingan.
Solidaritas sejati tidak berarti membenarkan yang salah. Solidaritas sejati adalah keberanian menegur kawan sendiri ketika ia melanggar prinsip keadilan. Itulah nilai luhur Islam yang seharusnya menjadi pondasi gerakan mahasiswa Islam.
Hari ini, yang dibutuhkan bukan lagi seruan di jalanan, melainkan keberanian moral untuk berkata jujur: bahwa kekerasan adalah kekerasan, dan salah tetaplah salah, siapapun pelakunya. Jika organisasi Islam tidak lagi memiliki keberanian itu, maka mereka bukan lagi benteng moral umat, melainkan cermin dari kemunduran nilai yang mereka sendiri perjuangkan.
Kebenaran tidak membutuhkan teriakan massa, tapi membutuhkan kejujuran hati. Dan ketika kebenaran mulai dikorbankan demi solidaritas buta, maka saat itulah idealisme Islam sedang diperdagangkan dengan harga yang sangat murah.
(Susi Lawati)




