Rayakan Milangkala Ke – 46, Desa Gudang Kahuripan Gelar Tablig Akbar, Berbagai Pertunjukan Seni dan Karnaval Budaya, Agus Karyana : Sebagai Bentuk Rasa Syukur dan Pelestarian Budaya

Lembang, MPN — Sabtu (22/2/2025),
Dalam Rangka Milangkala (Ulang Tahun) Desa Gudang Kahuripan, Kec.Lembang, Kab.Bandung Barat yang Ke – 46, digelar berbagai macam kegiatan yang melibatkan seluruh warga desa yang berbatasan dengan Kota Bandung dan terdiri dari 15 RW.
Acara yang dilangsungkan selama 2 hari (22/23 Februari 2025) dengan tema Paramayoga (Renungan Istimewa) ini menampilkan berbagai acara seni, budaya dan agama. Diantaranya Tablig Akbar yang menampilkan Penceramah dari Giriharja KH.Hari Wibowo Sunarya, S.Sos.
Menurut Kepala Desa Gudang Kahuripan Agus Karyana, ST., didampingi Sekdes Agus Yohana pada Milangkala Ke – 46 ini Desa Gudang Kahuripan menampilkan berbagai pertunjukan yang didukung oleh seluruh warga mulai dari RW 1 sampai RW 15,  mulai dari anak – anak TK, SD, SMP, SMA sampai Ibu – Ibu PKK dengan kompak menampilkan kreasi seninya.
“Selain itu kita juga menggelar kegiatan bakti sosial kepada 60 orang anak yatim piatu, disabilitas dan lansia serta jompo. Acara dilaksanakan dua hari yaitu Sabtu dan Minggu (22/23 Februari 2025). Di hari Sabtunya kita melaksanakan Tablig Akbar dengan penceramah dari Giriharja, dilanjutkan tampilan seni budaya anak – anak, remaja dan yang lainnya”, sebut Agus.
Kemudian pada Sabtu Malam acara dilanjutkan dengan pertunjukan Si Raja  Calung yaitu Yayan dan Adi Jatnika, lanjutnya. Setelah itu pada Hari Minggu pagi kita akan menggelar karnaval budaya yang akan diikuti sekitar 1500 orang, dilanjutkan parade seni dan festival kuliner yang dibuat oleh masing – masing RW untuk dimakan bersama.
“Akan tampil juga Seni Debus Hari Petir dan Kang Bahar, Singa Depok Lembang dan Kuda Renggong Majalaya. Semua gelaran ini dilangsungkan sebagai wujud rasa syukur atas kenikmatan dan rizki yang diterima. Kemudian sebagai ajang silaturahmi antara pemerintah desa dan masyarakat Desa Gudang Kahuripan.
Bisa juga dijadikan ajang edukasi untuk  mempertahankan kearifan lokal sebagai warisan dari leluhur dan untuk diteruskan oleh generasi muda milenial agar tetap terjaga kelangsungannya.
Adapun Tema “Pamarayoga” bisa diartikan juga dengan pernyataan tertinggi, disiplin spiritual, puncak dan kesadaran tertinggi, kesempurnaan tertinggi yaitu yang terbaik dari yang terbaik dalam semua hal termasuk pelayanan yang dapat dinikmati dan dirasakan oleh seluruh masyarakat.***
#Yusman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *