JAMBI.MPN-Kab.Muaro Jambi – Terobosan luar biasa kembali lahir dari dunia pendidikan. SMK Al Ihya Ulumaddin Desa Sebapo, Kecamatan Mestong, resmi meluncurkan Program Praktek Kerja Lapangan (PKL) berbasis pesantren – yang diklaim sebagai program perdana dan satu-satunya di Kabupaten Muaro Jambi.
Program revolusioner ini tidak sekadar mendidik siswa di ruang kelas, melainkan menggembleng mereka langsung di lapangan dengan fokus pada pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, dan kewirausahaan pertanian. Sinergi nilai pesantren dan kearifan lokal menjadikan program ini pionir dalam membangun generasi muda yang tangguh, mandiri, dan peduli bangsa.
Tak main-main, program ini mendapat dukungan dari sejumlah mitra strategis: Bank Sampah Karya Sejahtera, BBI Palawija Sebapo, Fakultas Pertanian Universitas Jambi, hingga Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Mestong. Kolaborasi ini diyakini akan memperkuat pondasi pendidikan sekaligus mendorong lahirnya inovasi hijau dari tangan-tangan santri.
Acara peluncuran berlangsung meriah dengan hadirnya tokoh-tokoh penting: Ketua Bank Sampah Karya Sejahtera Irfan Saputra, Camat Mestong, Kepala Desa Sebapo Asmara Dewi, Kepala Desa Ibru, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muaro Jambi, perwakilan BBI Palawija, Danramil, tokoh masyarakat, kepala dusun, ketua RT, hingga seorang notaris. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa program ini mendapat dukungan penuh dari berbagai lini.
Ketua Yayasan, KH. Roziqin ZA, A.Ma., Al-Hafidz, menegaskan bahwa PKL berbasis pesantren ini adalah wujud nyata pendidikan yang menyatukan nilai-nilai spiritual, kepedulian lingkungan, dan keterampilan hidup.
“Kami ingin siswa tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara mental, mandiri secara ekonomi, dan bermanfaat bagi bangsa serta lingkungan,” ujarnya penuh semangat.
Dengan diluncurkannya program ini, SMK Al Ihya Ulumaddin tidak hanya sekadar mencetak lulusan, melainkan mencetak pejuang masa depan yang mampu menghadapi tantangan zaman: dari krisis lingkungan hingga kemandirian pangan.
Tak berlebihan jika program ini disebut sebagai ikon pendidikan berbasis pesantren yang menginspirasi seluruh Indonesia.
(Susi Lawati)




