WKSBM Cileunyi : Isra Mi’raj Mengajarkan Pentingnya Empati dan Tanggung Jawab Sosial.

Media Polisi Nasional – Jabar –Yuyun Nurlina, S.Pd Ketua Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat ( WKSBM ) Cileunyi mengatakan peristiwa Isra Mi’raj dapat meningkatkan rasa sosial karena mengajarkan pentingnya empati dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, peringatan Isra’ Mi’raj perlu kita jadikan momentum untuk memperkuat nilai-nilai pendidikan karakter Sosial. Dimensi spiritual dan sosial adalah sebuah landasan utama bagi seseorang dalam menjalani kehidupan. Keduanya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Artinya, kita tidak bisa baik secara spiritual, namun buruk dalam urusan sosial. Keduanya harus berjalan beriringan.

Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang mengandung banyak pelajaran, termasuk:
– Pentingnya kepedulian sosial dan membantu sesama
– Pentingnya berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang adil dan berkeadilan
– Pentingnya menjaga komunikasi dengan Allah SWT
– Pentingnya menyelamatkan nasib umat manusia
Pentingnya memperkukuh iman dan menegaskan kenabian Nabi Muhammad SAW

Peristiwa Isra Mi’raj juga dapat menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, kebersamaan, dan gotong royong, Isra Miraj pada dasarnya adalah upaya transformasi sosial yang berporos pada nilai-nilai ilahi. “Pertemuan” dengan Tuhan yang dialami Nabi dalam mi`raj berarti mempertemukan problem sosial-kemanusiaan dengan solusi transendental. Pertemuan itu menghasilkan tranformasi sosial.

Bila kita amati secara seksama, gerakan-gerakan shalat adalah pesan cita-cita sosial itu sendiri. Takbir yang mengawali shalat mensiratkan pemuliaan nilai-nilai kemanusiaan. Karena hanya Allah yang Maha Besar, maka tidak boleh ada tindakan merasa lebih besar atau lebih hebat dari orang lain, tidak boleh ada tindakan menelantarkan orang-orang miskin. Selanjutnya, salam yang mengakhiri shalat mensiratkan pesan damai (salam). Seorang muslim bertugas menebarkan perdamaian, rasa tentram, dan keamanan bagi lingkungannya. Itu sebabnya, ucapan salam yang menghiasi pertemuan dua orang muslim harus dimaknai pesan perdamaian ini, bukan hanya sekedar retorika.

#Aspa#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *